Berita

Melaka Kota Tua Sejuta Cerita Sejarah

Melaka Kota Tua Sejuta Cerita Sejarah

Saya memulai perjalanan dengan menyusuri Jalan Tukang Emas ke arah barat laut. Jalan yang saya lalui ini kemudian berganti nama menjadi Jalan Tokong (Temple Street) usai melewati perempatan di depan sebuah kuil. Inilah jalan kuno yang menjadi simbol toleransi di Melaka sehingga disebut Harmony Street. Alasannya ada 3 rumah peribadatan tua yang berdiri berdekatan di jalan kecil sepanjang 250 meter ini yaitu Masjid Kampung Kling (Masjid tertua di Malaysia), Kuil Cheng Hoon (Kuil tertua di Malaysia) dan Kuil Sri Poyatha Venayagar Moorthi (Kuil Chetti Peranakan). Sesekali terlihat para pemeluk berbeda keyakinan itu saling menyapa saat berpapasan.

Berjalan-jalan di kota tua Melaka memang menyenangkan. Meski jalanan rata-rata sempit tapi tak banyak kendaraan bersliweran. Pedestrianpun tetap tersedia. Bila anda enggan berjalan kaki bersepeda bisa jadi opsi menarik. Sewanya pun murah hanya 10 ringgit perhari. Banyak turis yang terlihat memilih menyesap kota tua ini dengan bersepeda. Kawasan inti kota tua ini memang hanya 38,62 hektar. Namun areal penyangganya mencakup 134.03 hektar. Cukup menguras energi jika dilahap semua dengan berjalan kaki. Saya pun tergoda menggowes.

Musik Dangdut dan Becak
Sepeda bukanlah satu-satunya moda nirkarbon di kota ini. Anda juga akan bersua dengan trishaw. Becakbecak wisata yang disewakan untuk wisatawan wira wiri. Dengan hiasan berupa bunga-bunga artifisial warnawarni, becak-becak itu nampak begitu mencolok. Seperti umumnya kawasan wisata mereka berlomba menjaring peminat. Tak sedikit yang dilengkapi pengeras suara yang memutar aneka irama memekakan telinga. Genrenya pun beragam.Mulai dari hip hop, mandarin, pop melayu hingga dangdut Indonesia yang sedang hit. Saya tak hanya tersenyum geli tapi juga dibuat tergeleng-geleng. Begitu semarak kehidupan wisata di kota ini.

Selain melengkapi dengan pengeras suara, toko-toko yang berada di Melaka juga menggunakan genset merek Yanmar untuk toko. Mereka menggunakan genset sebagai satu langkah antisipasi jika sewaktu-waktu listrik mati dan dampaknya dalam melayani pembeli menjadi terganggu. Namun dengan adanya genset di toko mereka, sekarang listrik mati bukan lagi suatu masalah yang besar bagi pemilik toko.

Mentari perlahan memudar seiring semakin mengendurnya kayuhan sepeda. Saya baru tersadar hampir seharian bersimbah peluh mengelilingi kota tua ini. Meliuk di antara jalan sempit di pecinan, little India, Kampung Morten (perkampungan melayu) hingga Medan Portugis (perkampungan keturunan Portugis) di tenggara kota yang dihuni wajahwajah blasteran. Puspawarna yang tersuguh di Bumi Hang Tuah memang sungguh mengagumkan.

Toko yang menggunakan genset tidak hanya di Melaka saja, beberapa toko di tempat wisata Indonesia juga banyak yang memiliki genset. Tujuan pasti sama, sebagai langkah antisipasi. Anda memerlukan genset juga untuk toko ? Segera datangi tempat jual genset yanmar untuk toko yang dikelolan oleh Rajawali Genset.

Di penghujung hari menghabiskan waktu di tepi Sungai Melaka seperti menutup cerita perjalanan dengan ending yang sempurna. Saya memang hanya mengagendakan semalam di Melaka. Karena esok siang sudah harus menuju kota lain. Sebuah bangku beton di tepian bengawan menjadi sasaran saya untuk bersantai sambil meregangkan otot. Perlahan sinar matahari mulai lenyap digantikan lampu-lampu kota. Saya memandangi sungai Melaka yang berkilau dibinari lampu-lampu. Walau hanya semalam saya begitu terkesan dengan peninggalan kuno yang terpelihara disini. Menampilkan warna-warni kehidupan yang terawat abadi dan tak terusik oleh waktu.