Berita

Teknologi Pengenalan Wajah Kini Dapat Membaca Emosi Manusia

Teknologi pengenalan wajah kini kian canggih. Sejumlah perusahaan mengklaim, teknologi tersebut dapat membaca emosi manusia dan mendeteksi perilaku yang mencurigakan. Para ahli teknologi mengatakan, teknologi pengenalan wajah yang telah muncul selama beberapa dekade ini telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir karena kemajuan visi komputasi dan kecerdasan buatan atau artifi cial intelligence (AI).

Teknologi ini sekarang digunakan untuk mengidentifi kasi orang di perbatasan, membuka kunci di ponsel pintar, untuk mengenali kriminal dan mengotentikasi transaksi perbankan. Algoritma dan kamera berdefi nisi tinggi dapat melakukan hal tersebut secara akurat dan lebih cepat. Ini sudah digunakan untuk tujuan komersial.

pengenal wajah

Sebuah supermarket bisa menggunakan teknologi ini di lorong-lorong toko untuk menganalisis konsumen yang datang dari sisi usia dan gender serta suasana hati mereka. “Ini dapat membantu target pemasaran dan menentukan penempatan produk,” ujar Oliver Philippou, ahli pengawasan video dari IHS Markit, seperti mengutip BBC. Agensi riset pasar Kantar Millward Brown menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan AS, Affectiva untuk menilai bagaimana konsumen bereaksi terhadap iklan TV.

Affectiva merekam video wajah orang-orang setelah mendapat dengan izin mereka, kemudian “kode” ekspresi mereka bingkai demi bingkai untuk menilai suasana hati mereka. “Kami mewawancarai orangorang tetapi kami mendapatkan lebih banyak nuansa dengan juga melihat ekspresi mereka. Anda dapat melihat bagian mana dari iklan yang berfungsi dengan baik dan respons emosional yang dipicu,” kata Graham Page, Managing Director Penawaran dan Inovasi di Kantar Millward Brown.

Perusahaan Inggris WeSee, misalnya, mengklaim, teknologi AI-nya dapat melihat perilaku yang mencurigakan dengan membaca isyarat wajah yang tidak terlihat oleh mata yang tidak terlatih. “Hanya menggunakan rekaman video berkualitas rendah, teknologi kami memiliki kemampuan untuk menentukan keadaan pikiran seseorang atau niat melalui ekspresi wajah mereka, postur, gerakan dan gerakan,” kata CEO WeSee David Fulton. Namun Philippou skeptis tentang keakuratan deteksi emosi.

Menurutnya, ketika mengidentifi – kasi wajah, masih ada margin kesalahan, meski perusahaan AI mengklaim mereka dapat mengidentifi kasi orang dengan akurasi 90% -92%. “Ketika Anda mencoba menilai emosi, margin kesalahan menjadi jauh lebih besar,” katanya. Hal itu mengkhawatirkan para penggiat privasi. Mereka khawatir, teknologi ini dapat membuat penilaian yang salah atau bias.